Dalam Rangka HUT Kemerdekaan RI Ke-76 Tahun Polres Wonogiri Melaksanakan Upacara Pengibaran Bendera Pusaka

Polres Wonogiri Melaksanakan HUT RI Ke-76 Tahun

 

Wonogiri - ICN---Polres Wonogiri baru saja melaksanakan kegiatan upacara pengibaran bendera merah putih dalam rangka peringatan HUT Kemerdekaan RI Ke-76th yang dilaksanakan di Gedung Pendopo Rumah Dinas Bupati Wonogiri, Selasa(17/08/2021).



Pada upacara kemerdekaan ini Bupati Wonigiri Bp.Joko Sutopo bertindak sebagai Inspektur Upacara, sementara untuk Komandan Upacara yaitu AKP Soepardi, Perwira Upacara AKP Sugihantoro, dan Peserta Upacara yang terdiri 1 Pleton Anggota Kodim 0728/Wonogiri, 1 Pleton Anggota Polres Wonogiri, serta 3 Pleton PNS Pemerintah Kabupaten(PemKab) Wonogiri.


Kegiatan ini dihadiri oleh Kapolres Wonogiri AKBP Dydit Dwi Susanto, S.I.K., M.SI., Dandim 0728/Wonogiri LetKol Inf. Imron Mashadi, S.E., Ketua DPRD Wonogiri Bp.Sriyono S.Pd., Wakil Bupati Wonogiri Bp.Setyo Sukarno, Ketua Pengadilan Negeri Wonogiri Bp.Sugeng Sudrajat, Kajari Wonogiri Bp.Tailani Moehsad, kemudian para Asisten Sekda Kabupaten Wonogiri, Kepala Terminal Induk Tipe.A Giri Adipura Wonogiri Bp.Agus Hasto Purwanto, dan serta Kepala OPD Kabupaten Wonogiri.


Dalam amanatnya sebagai Inspektur Upacara Bupati Wonogiri Bp.Joko Sutopo membacakan sambutan dari Gubernur Jawa Tengah Bp.Ganjar Pranowo yang kurang lebih isinya sebagai berikut ;


- Bapak ibu saudaraku sekalian. 
Hari ini adalah tahun kedua kita merayakan kemerdekaan di tengah pandemi, Seratus ribu lebih saudara kita gugur, Tiga juta lebih saudara kita merasakan perih Banyak orang bertumbangan, Pedagang, pengusaha, karyawan termasuk tenaga medis bukan hanya sektor perekonomian dan kesehatan, hampir seluruh lini kehidupan terkena pukulan telak pandemi ini. 


- Setiap hari, kabar orang meninggal maupun usaha yang gulung tikar kita dengar, Grup-grup whatsApp dan media sosial, berubah jadi ruang penebar duka dan doa. Sedih, capek, marah dan muak bergantian masuk di dada, seolah-olah sudut untuk kita bahagia sudah tidak tersisa, Seolah-olah, kehidupan yang aman dan nyaman sudah tidak ada.



- Kita semua jadi saksi betapa beratnya perjuangan kita, terlebih perjuangan temanteman tenaga medis untuk mengalahkan pandemi, bahkan demi keselamatan kita, lebih dari 1400 tenaga kesehatan meninggal dunia, 110 di antaranya adalah tenaga kesehatan dari Jawa Tengah. 


- Maka di tengah upacara kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2021, saya ingin memberi hormat setinggi-tingginya kepada para tenaga kesehatan, kami bersama kalian, dengan hazmat yang saya pakai ini, saya berharap dapat ketularan semangat dan spirit kemanusiaan para tenaga medis di tengah pandemi, semangat dan spirit iłu, juga saya harapkan menular pada panjenengan semua yang saat ini sedang menjalani isolasi. 



- Panjenengan tidak sendirian, yang penting, kita harus terus berjuang untuk pulih dan meningkatkan imun, jangan loyo apalagi nglokro 
- Saban hari saya keliling bertemu bakul sayuran, berjumpa tukang becak, pedagang asongan sampai penjaja koran, semua mengatakan betapa beratnya bekerja di tengah pandemi ini, mereka pun sekuat-kuatnya tetap mencari nafkah, Mereka tidak mau menyerah, mereka menolak kalah
Semangat beliau-beliau itulah yang mesti kita jadikan contoh untuk terus saling menguatkan, terutama menguatkan mereka yang telah ditinggal anggota keluarganya karena corona. 
- Bapak ibu saudara-saudara sekalian. Saat ini, di Jawa Tengah, lima ribu empat ratus anak-anak telah kehilangan orangtuany, sekarang tidak ada lagi yang bisa dipanggil bapak, tidak ada lagi yang mereka panggil ibu, Tidak ada yang ngasih uang jajan, apalagi ngajak liburan. 

- Untuk sekedar pelipur lara, Pemprov Jateng telah mengirim paket bantuan pada mereka, beberapa Pemerintah Kabupaten Kota juga telah melakukan hal serupa, termasuk teman-teman Kepolisian, mungkin itu belum cukup, kita masih harus membantu mereka dalam hal pendidikan dan mendampingi mereka meraih masa depan. 

- Perjuangan bersama-sama seperti inilah yang akan membuat masyarakat semakin kuat menghadapi cobaan yang sangat dahsyat. 
- Kita semua tahu, Proklamasi Kemerdekaan bukanlah ujung perjuangan, nyatanya, setelah Bung Karno dan Bung Hatta membacakan naskah proklamasi, Indonesia masih harus berperang melawan agresi militer Belanda, masih harus perang membebaskan Irian Barat.

- Pertempuran demi pertempuran masih harus dihadapi bangsa kita. Dari Pertempuran Surabaya, Pertempuran Ambarawa, Pertempuran Lima Hari di Semarang, Perang Puputan Bali serta pertempuran-pertempuran melawan pemberontakan saudara sendiri. 

- Di masa sekarang ini, pertempuran dalam medan dan cara yang berbeda juga terus kita alami. Melawan kemiskinan, melawan kebodohan, melawan narkoba, terorisme dan radikalisme. Kita juga masih harus bertempur habis-habisan untuk menegakkan kedaulatan politik, menegakkan kemandirian ekonomi, menegakkan kepribadian yang berkebudayaan.Tapi sudahkah kita berdaulat ? Sudahkah kita mandiri ? 
Sudahkah kita memiliki pribadi berkebudayaan ? 
Belum bapak ibu saudaraku sekalian, masih jauh panggang dari api, dan pandemi ini benar-benar jadi kaca benggala yang sempurna untuk kita menilai diri sendiri
Di satu sisi, covid memang telah melumpuhkan kita. Tapi di Sisi yang Iain, si covid ini justru menampar kesadaran bahwa perjuangan harus terus kita lakukan, Cita-cita kemandirian harus kita wujudkan. 
- Percuma selama ini kita menyebut diri sebagai bangsa besar, kalau ternyata riset saja masih lemah. Percuma kita membanggakan diri sebagai bangsa adiluhung, kalau laboratoriumnya masih jadul, tidak bisa diadu dikancah dunia. Mulai sekarang, ayo gotong royong, bahu membahu menyiapkan segala hal, Kita tingkatkan riset ilmu pengetahuan, kita perbanyak laboratorium dan tingkatkan kelasnya. 
Apa kita tidak ingin bisa bikin obat-obatan sendiri, menciptakan vaksin, reagen, dan alat kesehatan sendiri ? 
Masak untuk mencukupi kebutuhan masker saja kita harus import ? Apa kita tidak malu ? 
- Kedaulatan dan kemandirian ini bukan hanya untuk sektor kesehatan saja. 
Sektor pertanian dan pangan, sektor kemaritiman, energi sampai teknologi kita juga harus berdaulat dan mandiri. 
Kita ini mestinya jadi lumbung pangan dunia, bukan sebagai penerima bantuan pangan. 
Kita ini mestinya jadi raja di lautan, bukan tempat pelarian apalagi ladang pencurian. 
Juga demikian untuk sektor energi dan teknologi. 
Semua nikmat yang tercurah di negeri ini, saya haqqul yakin, bisa jadi kendaraan untuk mewujudkan kedaulatan dan kemandirian di segala bidang, Jangan sampai 10-20 tahun mendatang ketika misalnya terjadi pandemi lagi, kita masih sama seperti ini, terperosok dan terseok-seok seperti ini. Hanya keledailah yang akan jatuh ke lubang yang sama. Kita menolak jadi bangsa keledai. 

- Kita Bangsa Indonesia, Garuda lambang negaranya. Garuda kita harus terbang, mengepakkan sayap menuju kejayaan. 
- Saya berdoa pada Tuhan Yang Maha Esa, agar seluruh rakyat Indonesia, seluruh bangsa Indonesia diberi karunia kekuatan hati dan pikiran untuk mewujudkan kemakmuran. Tidak mulai besok, tidak mulai lusa tapi mulai SEKARANG!. MERDEKA!

"Selama kegiatan berjalan dengan aman dan lancar serta tetap memperhatikan Protokol Kesehatan" Tambah Bupati Wonogiri.



Rajun/ICN

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama