Notification

×

Iklan

Iklan

Most Popular Tags

Berusaha Benahi Perumda Air Minum Sengkang, Indentifikasi Gangguan Utama Produksi

Rabu, 04 Februari 2026 | Februari 04, 2026 WIB Last Updated 2026-02-03T23:56:16Z
    Share

Direktur Perumda Air Minum Sengkang
Andi Gusti 

 WAJO, INFOCHANELNASIONAL.COM--Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, terus berupaya meningkatkan kualitas serta kontinuitas pelayanan air bersih kepada masyarakat, dengan target ke depan pelayanan air dapat berlangsung selama 24 jam.


Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Perumda Air Minum Sengkang, Andi Gusti M., saat ditemui wartawan Info Chanel Nasional di ruang kerjanya pada Selasa, 3 Februari 2026.


“Untuk pelayanan masalah air, kita tetap jalankan sebagaimana yang diharapkan. Ke depan, pelayanan air akan kita upayakan bisa berjalan atau berlangsung selama 24 jam,” katanya.


Namun, ia mengakui bahwa hingga saat ini masih terdapat banyak kendala dalam pelayanan air minum di Kabupaten Wajo.


“Memang kita di Wajo ini masih banyak kendala terkait dengan pelayanan air minum. Dari sisi distribusi, kita belum meng-cover secara total, baik itu di Kecamatan Tempe apalagi di luar Kecamatan Tempe. Hal itu karena berbagai kendala yang kita hadapi,” ungkapnya.


Menurutnya, saat ini pihak Perumda masih fokus pada pengumpulan dan analisis data teknis sebagai dasar pengambilan kebijakan.


“Sekarang saya masih mengumpul data, menganalisa datanya, dan mengolah mana yang bisa dilakukan segera. Misalnya untuk melayani 24 jam ini, saya masih menghitung bagaimana mekanisme distribusi air di Kabupaten Wajo, khususnya di Kecamatan Tempe, Kecamatan Pammana, dan Kecamatan Tanasitolo yang berbatasan langsung dengan ibu kota kabupaten,” tambahnya.


Dari hasil pemantauan sementara, kondisi distribusi air di lapangan sangat bervariasi.


“Faktanya kita temukan ada yang mengalir 24 jam, ada yang mengalir 12 jam, ada juga yang mengalir 12 jam dalam waktu dua hari, atau satu hari mengalir besoknya tidak, lalu besoknya lagi mengalir. Bahkan ada juga yang hanya mengalir 8 jam,” jelasnya.


Ia menegaskan bahwa kebijakan teknis tidak bisa diambil secara terburu-buru tanpa dukungan data yang memadai.


“Saya mencoba mau mengambil kebijakan, tapi data itu masih harus dikumpulkan. Ini kan soal data teknik, jadi untuk mengambil kebijakan secara teknis tidak bisa tiba-tiba,” lanjutnya.


Andi Gusti juga mengungkapkan bahwa salah satu kendala besar terletak pada kondisi peralatan dan fasilitas produksi yang sudah berusia tua.


“Kendalanya terutama peralatan kita atau fasilitas kerja, ada yang usianya sudah 10 tahun, ada yang 15 tahun, bahkan Instalasi Pengolahan Air (IPA) kita masih ada yang dibangun tahun 1939, istilahnya masih zaman Belanda,” terangnya.


Selain itu, jaringan pipa yang digunakan juga masih banyak menggunakan jenis lama.


“Pipa-pipa kita masih ada yang Galvanis dan ACP. Ke depan, semua perusahaan air minum harus mengikuti standarisasi. Pipa yang dulunya Galvanis atau ACP atau PVC harus kita ganti menjadi HDPE. HDPE itu juga ditentukan tekanan bar-nya supaya bisa mengurangi kebocoran,” sambungnya.


Untuk mendapatkan gambaran nyata kondisi lapangan, dirinya mengaku turun langsung melakukan pengecekan.


“Inilah yang sementara kami hitung, kami masih kumpul datanya. Saya biasa sampai di sini selesai jam 12 malam. Habis itu saya keluar, keliling melihat kondisi, mengambil elevasi, mencari titik-titik kebocoran, dan sebagainya" ujarnya.


Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Andi Gusti menegaskan bahwa pihaknya tetap berupaya mencari pola distribusi terbaik agar masyarakat tetap mendapatkan akses air bersih setiap hari.


“Kalau belum mampu 24 jam di Kota Sengkang ini, saya berupaya bagaimana ini bisa 12 jam atau kita bagi menjadi tiga waktu, misalnya mengalir 8 jam, 8 jam, dan 8 jam. Yang penting setiap hari masyarakat bisa mengakses atau mendapatkan air minum,” tegasnya.


Ia menambahkan bahwa secara potensi, produksi air di Kabupaten Wajo sebenarnya memungkinkan untuk pelayanan maksimal.


“Kalau kita lihat produksi kita di Wajo, sesungguhnya andaikan peralatannya berfungsi maksimal itu bisa. Seperti Kota Makassar yang full 24 jam mengalir,” tuturnya.


Fokus utama Perumda saat ini adalah mengidentifikasi penyebab utama gangguan produksi.


“Kita susun datanya dengan baik. Apa yang membuat misalnya IPA 1 bermasalah, ternyata memang usianya sudah terlalu tua. Pompa-pompanya juga memang sudah harus diremajakan. Kira-kira seperti itu situasi yg kami hadapi sekarang".  tandasnya. (Arief)

×
Berita Terbaru Update